Mengapa McDonald’s Bukan Pembanding yang Relevan bagi MBG?

(Seri 2) Oleh: James Faot

Berita, Nasional, Opini316 Dilihat


Bayangkan dua bangunan megah: satu rumah sakit pemerintah, satu hotel bintang lima. Keduanya memiliki tempat tidur, dapur, dan staf. Namun, menilai rumah sakit dari tingkat hunian kamarnya, atau hotel dari jumlah pasien yang disembuhkan, adalah absurd. Begitulah analogi yang tepat untuk membandingkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan McDonald’s.

Artikel sebelumnya (https://idekita.id/wp-admin/post.php?post=634&action=edit ) menguraikan kesalahan logis dalam membandingkan kecepatan ekspansi kedua entitas. Presiden Prabowo Subianto sendiri tidak pernah menempatkan MBG sejajar dengan McDonald’s dalam konteks laba, efisiensi bisnis, atau model korporasi. Ketika menyebut McDonald’s, yang digunakan adalah metafora kecepatan jangkauan (speed of scale)—sebuah cara komunikasi politik untuk menggambarkan betapa cepat dan luasnya program MBG dirancang untuk menjangkau penerima manfaat.

Penggunaan benchmark semacam ini lazim untuk membantu publik memahami skala logistik, bukan untuk menyamakan tujuan ekonomi. Kesalahan muncul ketika metafora tersebut diperlakukan sebagai perbandingan ekonomi yang literal. Kini, kita meninjau dimensi yang lebih substantif: bagaimana masing-masing menciptakan lapangan kerja dan mendistribusikan nilai ekonomi. Meski sama-sama berkontribusi pada perekonomian, logika di balik kontribusi itu berbeda secara fundamental.

Kesalahan Kategori

Narasi publik sering terjebak dalam reduksionisme ekonomi, menganggap semua aktivitas produktif harus diukur dengan parameter korporasi. Padahal, kebijakan publik dan bisnis swasta beroperasi dalam alam semesta yang berbeda.

MBG adalah instrumen negara untuk memenuhi hak konstitusional atas pangan, sementara McDonald’s adalah mesin profit yang dioperasikan di bawah lisensi waralaba. Memaksakan kerangka evaluasi yang sama untuk keduanya bukan hanya tidak tepat, tetapi menyesatkan. Ini adalah category error klasik, yang mengaburkan tujuan sebenarnya dari intervensi publik.

Kesalahan ini muncul dari bias paradigmatik yang menyempit, di mana efisiensi pasar dianggap sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Dalam ekonomi pembangunan, negara memiliki peran korektif dan transformatif—terutama di sektor strategis seperti pangan. MBG dirancang untuk mengatasi kegagalan pasar dalam distribusi gizi dan ketahanan pangan, sementara McDonald’s dirancang untuk menangkap pasar dan memaksimalkan keuntungan. Perbandingan di antara mereka mengabaikan perbedaan mendasar dalam mandat, akuntabilitas, dan logika operasional.

Mari kita lihat peta perbedaan ini melalui tabel yang merangkum dimensi-dimensi kritis:

Tabel Perbandingan MBG vs McDonald,s

Dimensi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

McDonald’s Indonesia (RNF)

Tujuan Utama

Intervensi publik: gizi, pemerataan, ketahanan pangan

Korporasi privat: profit & efisiensi operasional

Dasar Hukum & Mandat

Kebijakan negara, mandat konstitusional Pasal 33 UUD 1945

Kontrak lisensi waralaba dan hukum korporasi

Sumber Dana

APBN (redistributif)

Konsumsi pasar + lisensi waralaba

Kepemilikan

Negara (publik)

Swasta nasional (lisensi merek global)

Rantai Pasok

Dirancang 100% domestik, hulu–hilir

±75% domestik, hilir-dominan

Mekanisme Nilai

Sirkulasi tertutup dalam ekonomi nasional

Sebagian nilai (royalti IP) mengalir ke luar negeri

Kriteria Keberhasilan

Penurunan stunting, penciptaan kerja riil, transformasi struktur produksi

Margin laba, ekspansi gerai, efisiensi layanan

Model Ketenagakerjaan

Produksi pangan, logistik, pengolahan, dapur komunitas

Operasional ritel, layanan cepat saji

Skala Pekerjaan

·         871.700–1,9 juta pekerjaan bersih di rantai hulu-hilir (AAY, 2025), estimasi.

·         600.000-1,5 juta pekerja (Pidato Presiden Prabowo di WEF, Davos, (2026)

±11.000 pekerja langsung

Karakter Kerja

Berbasis produksi, kontrak agregasi, relatif berkelanjutan

Upah minimum, turnover tinggi, rapuh secara struktural

Akuntabilitas

Kepada publik melalui DPR, BPK, dan masyarakat)

Korporat (manajemen & pemegang lisensi)


Sumber: Olahan penulis

Tabel ini bukan sekadar daftar; ia menunjukkan dua ekosistem yang berbeda. MBG berangkat dari mandat konstitusional Pasal 33 UUD 1945, yang menempatkan pangan sebagai hajat hidup orang banyak. Tujuan MBG bukan menciptakan efisiensi pasar, melainkan memperbaiki kegagalan pasar pangan, terutama dalam penyediaan gizi bagi kelompok rentan.

Sebaliknya, McDonald’s—meskipun dikelola oleh perusahaan nasional—tetap beroperasi dalam logika profit maksimal melalui standardisasi global. Keberhasilannya diukur dari volume penjualan, margin, dan ekspansi, bukan dari perbaikan status gizi nasional atau kesejahteraan petani kecil.

MBG dibangun untuk redistribusi dan sirkulasi domestik, sementara McDonald’s, meski memiliki rantai pasok yang terlokalisasi, tetap terhubung dengan aliran keluar global melalui mekanisme royalti. Perbedaan struktural ini tercermin paling jelas dalam pola ketenagakerjaan dan aliran nilai yang dihasilkan. Membandingkan keduanya tanpa membedakan tujuan sama saja dengan menilai sekolah negeri menggunakan indikator laba lembaga bimbingan belajar.

Ketenagaakerjaan, Aliran Nilai & Multiplier Effect

Dari perspektif ketenagakerjaan, MBG menciptakan lapangan kerja dalam skala masif dan berlapis. Simulasi ekonomi oleh Arief Anshory Yusuf (2025) dari Universitas Padjadjaran menunjukkan program ini menghasilkan antara 871.700 hingga 1,9 juta pekerjaan bersih. Angka ini terdistribusi di seluruh rantai nilai: dari petani dan nelayan di hulu, hingga tenaga logistik dan pengelola dapur di hilir. Pola kerjanya diatur melalui Perpres No. 115/2025, yang menekankan kontrak berjangka dengan koperasi dan UMKM, dilengkapi pelatihan kapasitas untuk meningkatkan produktivitas jangka panjang.

Berdasarkan pidato Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) Davos 2026, pencapaian operasional MBG telah memberikan bukti awal yang solid terhadap proyeksi akademis seperti yang dikemukakan Arief.

Hanya dalam waktu satu tahun sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025, program ini telah mengoperasikan 21.102 dapur MBG dan melayani 59,8 juta penerima manfaat setiap harinya, yang terdiri dari anak sekolah, balita, dan ibu hamil. Capaian kecepatan skala (speed of scale) ini telah menciptakan sekitar 600.000 lapangan kerja langsung dalam operasional dapur, serta mengintegrasikan tidak kurang dari 61.000 UMKM dan perusahaan besar ke dalam rantai pasoknya. Pemerintah memproyeksikan bahwa ekspansi program akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja langsung dan vendor hingga 1,5 juta orang.

Data empiris ini tidak hanya mengonfirmasi potensi penciptaan kerja masif, tetapi juga menunjukkan bahwa MBG berfungsi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi riil yang berjalan, jauh melampaui narasi awal sebagai program karitatif belaka (epolforum, 2026).

Kontras dengan McDonald’s Indonesia, yang dioperasikan oleh PT Rekso Nasional Food (RNF) sebagai pemegang waralaba penuh. Perusahaan ini mencatat sekitar 11.000 karyawan langsung di lebih dari 330 gerainya—angka yang terpuji untuk sebuah korporasi, namun jauh lebih kecil dibandingkan MBG.

Menurut laporan Asosiasi Franchise Indonesia (2024), pola ketenagakerjaan di tingkat gerai cenderung didominasi posisi paruh waktu dengan tingkat pergantian tinggi. Sementara RNF mengembangkan rantai pasok lokal yang melibatkan puluhan mitra petani dan peternak, penciptaan pekerjaan di tingkat operasional tetap terfokus pada layanan cepat saji, dengan keterampilan yang terbatas pada standar operasional gerai.

Perbedaan kuantitas ini juga mencerminkan perbedaan kualitas dan keberlanjutan pekerjaan. Pekerjaan yang diciptakan MBG tersebar di sektor riil—seperti pertanian dan pengolahan pangan—yang cenderung lebih stabil dan terkait dengan pengembangan kapasitas lokal. Sedangkan pekerjaan di McDonald’s, meski memberikan pendapatan langsung, sering kali rentan terhadap fluktuasi jam kerja dan minim jalur karier vertikal. Dalam bahasa ekonom, MBG membangun human capital melalui integrasi vertikal sektor pangan, sementara McDonald’s terutama menyediakan low-skill service jobs.

Aliran nilai ekonomi juga mengikuti logika yang berbeda. MBG dirancang sebagai sirkuit tertutup di dalam negeri. Studi Arief (2025) mengungkapkan 66,7% anggaran bahan baku program disalurkan ke sektor pertanian domestik, menghasilkan multiplier effect sebesar 1:1,1–1,2. Artinya, setiap Rp1 triliun yang diinjeksikan menghasilkan aktivitas ekonomi tambahan Rp100–200 miliar di dalam negeri, karena uang tersebut berputar antar pelaku lokal tanpa kebocoran impor yang signifikan. Model ini memperkuat sirkulasi domestik dan mendorong pertumbuhan sektor riil.

Sebaliknya, meski 76% bahan baku McDonald’s Indonesia bersumber lokal—seperti ayam, sayuran, dan beras (koran-jakarta.com)—mekanisme waralaba melibatkan aliran keluar berupa pembayaran royalti berkisar 4–5% dari penjualan (mcdonalds.co.id; CNBC). Royalti ini merupakan pembayaran untuk penggunaan merek, sistem operasional, dan standar kualitas yang mengalir ke pemilik intelektual di luar negeri. Dengan demikian, sebagian nilai tambah yang dihasilkan di Indonesia tidak sepenuhnya berputar dalam ekonomi domestik.

Model McDonald’s memang berkontribusi pada ekonomi lokal melalui lapangan kerja dan pengembangan pemasok, namun sifatnya sebagian bersifat ekstraktif. Sebagian profit yang dihasilkan tetap di Indonesia untuk ekspansi bisnis RNF, namun aliran royalti merupakan kebocoran nilai yang tidak terjadi dalam model MBG. Dalam istilah ekonom, MBG memiliki backward linkage yang lebih kuat karena seluruh rantai pasoknya terdalam di dalam negeri, sementara McDonald’s memiliki forward linkage terbatas karena berorientasi pada konsumsi akhir dengan komponen nilai intelektual yang diimpor.

Perbedaan ini bukan tentang baik atau buruk, melainkan tentang tujuan dan desain. McDonald’s adalah produk kapitalisme global yang efisien dalam skala operasionalnya. MBG adalah kebijakan publik yang bertujuan mengatasi ketimpangan struktural. Menilai MBG dengan parameter efisiensi korporasi sama halnya dengan menilai rumah sakit berdasarkan pendapatan per kamar—ia mengabaikan tujuan penyembuhan dan pelayanan sosial yang menjadi raison d’être-nya.

Penutup

Dengan demikian, evaluasi kebijakan seperti MBG harus dilakukan berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan: apakah prevalensi stunting menurun? apakah akses gizi meningkat? apakah petani sejahtera? Data awal telah menunjukkan dampak positif pada ketahanan pangan dan penyerapan tenaga kerja. Ini adalah tolok ukur yang relevan, bukan perbandingan dengan kinerja korporasi seperti McDonald’s.

Kita perlu meninggalkan logika reduksionis yang memaksa semua hal ke dalam kotak pasar. Ekonomi yang sehat membutuhkan keseimbangan antara efisiensi swasta dan keadilan publik. MBG dan McDonald’s masing-masing memiliki peran dalam ekosistem tersebut, namun membandingkannya secara langsung adalah kesalahan analitis yang berbahaya. Negara harus memiliki ruang kebijakan untuk merancang institusi yang sesuai dengan kebutuhan domestiknya. MBG adalah contoh dari ruang kebijakan itu.

***



Seri 3: Manfaat untuk Daerah Termiskin
Artikel selanjutnya akan mengeksplorasi bagaimana MBG mengubah arsitektur sistem pangan Indonesia dari akar, dengan fokus pada hilirisasi, integrasi vertikal, dan penguatan kedaulatan pangan di daerah-daerah termiskin.

Referensi:

Arief Anshory Yusuf (2025). Economic and Social Impact Assessment of Indonesian Free Nutritious Meals Program. Universitas Padjadjaran.

Asosiasi Franchise Indonesia. Laporan Kinerja Waralaba Makanan dan Minuman di Indonesia.

https://epolforum.wordpress.com/2026/01/25/memahami-logika-perbandingan-prabowo/
https://koran-jakarta.com/2026-01-28/mcdonalds-indonesia-berdayakan-76-bahan-baku-lokal-dan-ribuan-petani
https://www.mcdonalds.co.id/makin-kenal-makin-sayang/komitmen-dan-tanggungjawab/untuk-apa-pembayaran-royalti-mcdonalds-indonesia
https://www.mcdonalds.co.id/about
McDonald’s to raise royalty fees for new franchised restaurants for first time in nearly 30 years, https://www.cnbc.com/2023/09/22/mcdonalds-to-raise-royalty-fees-for-new-franchised-restaurants.html

Probowo Subianto, Pidato Presiden Prabowo di World Economic Forum 2026, https://www.youtube.com/watch?v=WTTpvDDNuxg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *