Memahami Logika Perbandingan Prabowo: MBG & McDonald’s

Serial Tulisan Oleh James Faot


Pengantar

Di tengah kritik yang menyebut perbandingan Presiden Prabowo Subianto antara Program Makan Bergizi (MBG) dan McDonald’s sebagai “lucu” atau “mengada-ngada”, penting untuk meluruskan apa yang sebenarnya sedang dilakukan Presiden dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) Davos 2026.

Prabowo tidak sedang membandingkan MBG dengan McDonald’s dalam arti ekonomi, profitabilitas, atau model bisnis. Yang ia bandingkan adalah kecepatan jangkauan (speed of scale)—sebuah indikator kunci dalam menilai kapasitas logistik, organisasi, dan eksekusi kebijakan berskala masif.

Kesalahpahaman publik dan sebagian pengamat justru terletak pada kegagalan membaca logika retoris dan strategis dari perbandingan tersebut.

Apa yang Sebenarnya Dibandingkan Prabowo?

Dalam forum yang dihadiri kepala negara, CEO global, dan investor internasional, Prabowo menggunakan perbandingan ilustratif—teknik komunikasi yang lazim dalam diplomasi ekonomi global. McDonald’s dipilih bukan karena ia bisnis makanan cepat saji, melainkan karena ia adalah ikon global tentang ekspansi jaringan distribusi skala raksasa.

Substansi pernyataan Prabowo dapat diringkas sebagai berikut:
McDonald’s membutuhkan waktu 86 tahun untuk membangun sekitar 40.000 jaringan gerai global dan melayani sekitar 68 juta porsi per hari.

Program Makan Bergizi (MBG), yang mulai beroperasi 6 Januari 2025, dalam waktu satu tahun telah: 1) Mengoperasikan 21.102 dapur MBG; 2) Melayani 59,8 juta penerima manfaat per hari (anak sekolah, balita, dan ibu hamil), dan; 3) Ditargetkan menjangkau 82,9 juta orang per hari pada 2026.

Dengan kata lain, yang dibandingkan adalah: 1) Dimensi waktu: 86 tahun vs ±2 tahun; 2) Skala jangkauan harian: 68 juta vs 82,9 juta orang, dan; 3) Kompleksitas logistik: pembangunan infrastruktur distribusi pangan nasional dalam tempo sangat singkat.

Sedangkan yang tidak dibandingkan adalah: 1) Model bisnis (profit vs program sosial); 2) Tujuan ekonomi (akumulasi kapital vs redistribusi dan investasi sosial), dan; 3) Sifat nilai (value extraction vs value creation).

Yang dibandingkan Prabowo adalah kecepatan, skala, dan kompleksitas integrasi logistik; bukan profit, model bisnis, atau tujuan ekonomi.

MBG sebagai Operasi Logistik Nasional Skala Raksasa

Data faktual dari pidato Prabowo di Davos memperkuat argumen bahwa MBG bukan sekadar program sosial, melainkan operasi ekonomi dan logistik berskala nasional.

Pada tahun 2025, MBG telah berfungsi sebagai mesin penciptaan lapangan kerja berskala nasional. Operasional dapur-dapur MBG menyerap sekitar 600.000 tenaga kerja langsung, sementara di sisi hulu dan hilir, tidak kurang dari 61.000 UMKM dan perusahaan besar terintegrasi dalam rantai pasok pangan program ini. Dampaknya, MBG bukan hanya menyediakan layanan gizi, tetapi secara nyata menciptakan sekitar 600.000 lapangan kerja langsung dalam waktu singkat. Seiring dengan ekspansi jumlah dapur dan peningkatan cakupan penerima manfaat, pemerintah memproyeksikan keterlibatan tenaga kerja langsung dan vendor akan meningkat hingga 1,5 juta orang, yang berarti lebih dari satu juta mata pencaharian baru tercipta melalui satu program sosial. Dengan demikian, MBG menegaskan diri sebagai kebijakan sosial yang sekaligus berfungsi sebagai instrumen penggerak ekonomi riil.

Program ini berjalan tidak terlepas dari kebijakan efisiensi fiskal yang diterapkan Presiden Prabowo, dengan penghematan anggaran negara mencapai USD 18 juta, yang kemudian dialihkan secara strategis untuk membiayai MBG.

Artinya, MBG bukanlah beban fiskal pasif, melainkan hasil realokasi belanja negara yang lebih produktif.

Mengapa Perbandingan Ini Cerdas secara Strategis?

Ada setidaknya tiga alasan utama mengapa perbandingan Prabowo justru tepat dan strategis dalam konteks WEF.

Pertama, bahasa yang dipahami audiens global.

WEF bukan forum akademik kebijakan sosial, melainkan ruang di mana ekspansi korporasi global menjadi referensi utama untuk menilai skala dan kecepatan.

Menggunakan McDonald’s sebagai benchmark mental membuat audiens global langsung memahami betapa ekstremnya kecepatan ekspansi MBG.

Kedua, menunjukkan magnitude tantangan logistik.

MBG bukan sekadar “bagi-bagi makanan”. Ia adalah operasi yang mencakup: 1) Rantai pasok pangan nasional; 2) Ribuan dapur yang beroperasi simultan; 3) Keterlibatan puluhan ribu pelaku usaha, dan; 4) distribusi harian ke puluhan juta penerima.

Ini adalah operasi setara korporasi Fortune 500, tetapi dijalankan oleh negara untuk tujuan sosial dalam waktu yang sangat singkat.

Ketiga, menegaskan kecepatan transformasi kebijakan publik.

Sebagian besar program sosial berskala besar di dunia membutuhkan puluhan tahun untuk mencapai cakupan nasional. MBG mencapai jangkauan masif dalam hitungan tahun.

Ini adalah anomali positif dalam sejarah kebijakan publik—dan itulah yang ingin ditegaskan Prabowo.

Paradigma Baru Kebijakan Sosial

Bagian paling penting dari pidato Prabowo justru sering diabaikan para pengkritiknya. Ia secara eksplisit menyatakan:

“Kebijakan sosial kita harus memperluas produktivitas dan menghasilkan pertumbuhan.”

Ini adalah pergeseran paradigma mendasar dalam sejarah kebijakan sosial Indonesia—bahkan dunia. MBG diposisikan bukan sebagai charity state, tetapi sebagai investasi sosial produktif yang: 1) Menciptakan lapangan kerja; 2) Menggerakkan UMKM; 3) Memperkuat rantai pasok pangan domestik, dan; 4) Mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan pendekatan ini, program sosial tidak lagi diperlakukan sebagai biaya, melainkan sebagai mesin pertumbuhan.

Kritikus yang menertawakan perbandingan MBG dengan McDonald’s sebenarnya sedang menyerang argumen yang tidak pernah dibuat. Mereka membantah ekuivalensi ekonomi, padahal yang dibicarakan Prabowo adalah kecepatan jangkauan operasional dan integrasi komplektitas.

Ini seperti seseorang berkata: “Vaksinasi COVID-19 Indonesia menyuntik 200 juta orang dalam 1,5 tahun, lebih cepat dari program imunisasi campak yang butuh puluhan tahun mencapai cakupan nasional”—lalu kritikus menyerang dengan mengatakan “Vaksin COVID beda dengan vaksin campak, konteksnya berbeda!” Serangan seperti ini tidak relevan karena tidak menyerang poin yang sebenarnya dibuat—yaitu kecepatan mobilisasi logistik dan jangkauan massal, bukan perbandingan jenis vaksin atau konteks medisnya.

Kesimpulan

Perbandingan Prabowo antara MBG dan McDonald’s bukanlah kesalahan konseptual, melainkan strategi komunikasi kebijakan yang cerdas, kontekstual, dan efektif. Ia menyoroti kecepatan, skala, dan kapasitas eksekusi negara dalam membangun infrastruktur distribusi pangan nasional dalam tempo yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dengan segala kekurangan yang masih perlu disempurnakan, MBG telah menunjukkan satu hal penting: program sosial dapat dirancang untuk menciptakan produktivitas, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi sekaligus. Inilah inti pesan Prabowo di Davos—dan kegagalan memahami pesan ini justru mengungkap keterbatasan nalar para pengkritiknya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *