AKAL BUDI Peta Masa Depan Jalan Kebudayaan Indonesia

Oleh : WENRI WANHAR


Oleh WENRI WANHAR

Sejak dahulu para guru di bangku sekolah sudah mengajarkan, Budaya berpangkal pada kata Buddhi dan Daya.

Jika Daya dipahami sebagai kekuatan, atau energi, berarti Budaya adalah kekuatan Buddhi. Atau Buddhi yang berdaya.

Sekarang kita bertanya, apa itu Buddhi?

Ki Hadjar Dewantara, Menteri Pendidikan pertama di Republik Indonesia pernah menjelaskan, Kebudayaan adalah buah Buddhi manusia.

“Sebagai buah Buddhi manusia, maka selalu terkandunglah dalam Kebudayaan itu sifat keluhuran itu pula. Namun yang tampak istimewa ialah sifat keindahan,” kata Ki Hadjar, Sang Bapak Pendidikan pada siaran Kebudayaan RRI, 14 Juli 1950.

Sepanjang bulan Juli 1950, berdasarkan arsip kumpulan karya Ki Hadjar Dewantara bertajuk Kebudayaan yang diterbitkan Taman Siswa, setidaknya tiga kali Ki Hadjar Dewantara mengudara di Radio Republik Indonesia (RRI).

Pertama, tanggal 14 tadi. Tanggal 21 dengan judul Perkembangan Kebudayaan dalam Zaman Merdeka. Dan,

Menudju Ke Arah Kesatuan Kebudayaan, pada 28 Juli.

Pada kesempatan itu Ki Hadjar menerangkan bahwa Buddhi manusia itu mempunyai dua sifat yang istimewa. Yaitu sifat luhur dan sifat halus.

Oleh karenanya, menurut Ki Hadjar, rendah tingginya Kebudayaan itu menunjukkan rendah tingginya Buddhi serta peradaban dalam hidupnya sesuatu bangsa. Kebudayaan tidak lain ialah sifat utuhnya atau globalnya hidup sesuatu bangsa.

“Kekuatan dalam jiwa manusia adalah trisakti; pikiran, rasa, dan kemauan. Atau cipta-rasa-karsa. Trisakti inilah yang disebut Buddhi. Karena adanya kekuatan Buddhi, trisakti tadi itu, manusia tidak saja berkuasa untuk memasukkan segala isi alam yang ada di luarnya ke dalam jiwanya dengan perantaraan pancaindra-nya. Namun berkuasa pula untuk mengolah dan memasak segala isi alam yang memasuki jiwanya itu, hingga menjadi buah, dan buah budi manusia itu disebut kebudayaan,” paparnya.

Kebudayaan itu, lanjut beliau, dapat dibagi menjadi; buah pikiran, buah perasaan, buah kemauan.

Buah pikiran, misalnya ilmu pengetahuan, pendidikan dan pengajaran, filsafat.

Buah perasaan, misalnya segala sifat keindahan dan keluhuran batin, kesenian, adat istiadat, kenegaraan,

keadilan, keagamaan, kesosialan dan sebagainya.

Kemudian buah kemauan, misalnya semua sifat perbuatan dan buatan manusia, seperti industri, pertanian, perkapalan, bangun-bangunan, dan lain-lain.
Saat siaran Kebudayaan RRI 21 Juli, Ki Hadjar menyebut, pada zaman dahulu kala, sebelum bangsa-bangsa dari tanah seberang mendarat di pantai-pantai Indonesia, rakyat kita di seluruh kepulauan mempunyai ikatan kenegaraan yang satu, merupakan bangsa yang satu, sekalipun belum berbentuk seperti organisasi kenegaraan zaman sekarang, pula rakyat kita boleh disebut termasuk dalam satu lingkungan kebudayaan.

Dan pada tanggal 28 Juli, Ki Hadjar membuka siaran dengan kalimat tanya. “Bagaimanakah caranya kita dapat memajukan perkembangan kebudayaan kita, yang sesuai dengan alam dan zaman kita sekarang ini?”

Pada musim yang ini, ada kabar gembira. Saat debat terakhir Pemilu 2024, calon presiden Anies Baswedan berjanji akan membentuk Kementerian Kebudayaan bila menang. Dan ini disambut dengan nada yang sama oleh calon lainnya, Prabowo Subianto.
Prabowo menang. Menyusul itu, serangkaian diskusi publik bertajuk Menyongsong Kementerian Kebudayaan pun dilangsungkan di mana-mana. Puncaknya di M Block, Melawai, Jakarta Selatan, 2 September 2024. Hari itu,

disaksikan ratusan pasang mata, Rahayu Saraswati, kader Partai Gerindra dan juga kemenakan Prabowo Subianto memastikan bahwa akan ada Kementerian Kebudayaan dalam kabinet mendatang.

Benar saja. Kabar gembira itu datang ketika anatomi Kebinet Merah Putih diumumkan. Peristiwa bersejarah dalam kita punya negeri; Indonesia kini punya Kementerian Kebudayaan.

Jalan Kebudayaan

Seluruh tapak-tapak tua yang berjejak di negara ini mengisyaratkan bahwa bangsa ini dahulu kala berjaya ketika menempuh Jalan Kebudayaan.

Borobudur, misal. Bukankah karya agung yang menjadi kebanggan rakyat Indonesia itu dibangun ketika leluhur kita menempuh Jalan Kebudayaan?
Apa mungkin monumen semacam Borobudur itu dibangun oleh bangsa miskin, kelaparan, berpengetahuan rendah?
Mungkinkah ia dibangun oleh bangsa yang gemar berkonflik, gemar berperang?
Kita berani memastikan, ia dibangun oleh bangsa kaya raya. Yang masyarakatnya tinggi capaian pengetahuan teknologinya.

Borobudur hanya satu contoh. Banyak lagi situs dan ritus jejak-jejak peninggalan nenek moyang yang dapat membuktikan, ketika leluhur bangsa Indonesia menempuh Jalan Kebudayaan, ketika Akal Budi menjadi suluh benderang dalam negeri, bangsa ini adalah bangsa kaya raya. Kaya raya; kaya bersama-sama. Adil makmur.

Masa-masa menempuh Jalan Kebudayaan itulah bangsa ini tampil mewarnai selapis peradaban dunia dengan ilmu pengetahuan serta teknologi yang mumpuni.

Kini, imajanasi kita sebagai rakyat Indonesia tentang Kebudayaan berbeda satu sama lain. Kesenian, yang sejatinya hanyalah renda-renda Kebudayaan dianggap sebagai Kebudayaan itu sendiri.

Kita akui saja, jalan lah diasak urang lalu. Orang-orang mudah saja menyebut pola kebiasaan seseorang, atau masyarakat sebagai budaya. Sehingga belakangan kita sering mendengar istilah “budaya korupsi”. Padahal, yang namanya budaya pastilah segala hal yang baik-baik.

Sebab, Budaya adalah kekuatan Buddhi. Ia adalah puncak kecerdasan jiwa dan puncak kecerdasan raga.

Begitulah adanya. Budaya dianggap sama dengan culture, istilah yang dibawa orang seberang.

Pada musim yang ini, meski imajinasi anak-anak bangsa tentang Kebudayaan belum lagi sama, setidaknya,

Kebudayaan sebagai jalan masa depan Bangsa Indonesia mulai akan kita tapaki bersama-sama.

Boleh jadi inilah tiba masanya memulangkan lagi sirih ke gagangnya, membalikkan lagi pinang ke tampuknya. Kalaulah bunga menjadi putik, putik menjadi buah, buah untuk kita nikmati bersama-sama.

Nalar Buddhi

“Kuat rumah karano sandi, rusak sandi rumah binasa. Kuat bangsa karano buddhi, rusak buddhi hancurlah bangsa.”
Tak perlu kiranya kita artikan siloka Minangkabau
di atas. Sanak saudara tentu dengan mudah memahaminya. Sebab, ia bahasa Melayu Tua yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia.

Paling, yang perlu sedikit kita ulas adalah diksi “sandi”.

Sandi adalah batu penyanggga tiang rumah panggung. Tapal batas penghubung kayu dengan tanah, agar kayu tak dimakan rayap. Dan sandi pula yang menjadi penyelaras bila negeri dihoyak gempa, ia berputar mencari titik imbang.
Sebelum meneruskan, boleh sekali lagi kita baca ulang siloka di atas tadi. Dan sejenak merenungkannya. Dalam siloka, tiap kata adalah isi. Meski sama-sama mengayun, siloka tidak sama dengan pantun.

Masih tentang Buddhi yang menjadi akar Kebudayaan, siloka lainnya berbunyi…
“Dek ribuik rabahlah padi, dicupak Datuak Tumangguang. Hiduik kalau tidak ba-Bhuddi, duduak tagak kamari tangguang.”

Siloka tadi terus terang menegaskan pentingnya Buddhi dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hidup kalau tidak ber-Buddhi, menurut siloka nenek moyang, apa pun yang dikerjakan akan serba tanggung.

Nah, sepanjang yang bisa saya ingat, siloka pertama yang disampaikan ibunda kepada saya, tempo hari…, “nan merah sago nan kuriak kundi, nan indah baso nan baiak Buddhi…”

Ya, perempuan yang mengandung, melahirkan, menyusui dan senantiasa membaluri saya dengan doa-doanya menyebut bait kata-kata yang disampaikannya secara bertahap untuk dijadikan pedoman hidup, dengan istilah; siloka.
Karena terdengar aneh, tapi enak didengar, sesekali saya ulang-ulangi ibunda untuk menjelaskan apa itu siloka.

Pasalnya, istilah “siloka” ini bukan bahasa sehari-hari kami yang hidup di rantau, dan juga bukan bahasa Minang yang kami gunakan saban hari di rumah.


Apabila terbit tanya di lamunan ketika memikirkan isi-isi pelajarannya, saya langsung saja bertanya. “Ma, apa deh nama pelajaran yang Mama sampaikan tempo hari?”
“Yang mana?”
“Yang pakai kata-kata indah mirip orang berpantun.”
“Petatah petitih?”
“Bukan!”
Barulah ketika saya ingatkan, “nan sirah iolah sago nan kuriak iolah kundi, nan indah iolah baso nan baiak iolah budi,” beliau baru ingat…
“O, siloka…,” katanya.
Ini terjadi tidak sekali dua. Tiap lupa istilah tadi itu, dan saya gagal memanggil ingatan, selalu saya tanyakan ulang ke Mama. Bila tidak sedang berada di kota yang sama, saya tanyakan melalui telepon.
Hapal kaji karena diulang, pasar jalan karena ditempuh… sampai sekarang untung baik saya masih mengingatnya; siloka. Dan siloka pertama itu tak terlupakan. “Nan indah iolah baso nan baiak iolah Buddhi…” Indah bahasa, baik Buddhi.


Ini semacam jalan hidup. Indah dalam berbahasa, bertutur kata pantang menyinggung. Dan hidup ber-Buddhi. Yang namanya Buddhi pasti baik. Begitu pula lah Budaya. Yang namanya Budaya, atau Kebudayaan pasti elok.
Buddhi, menurut Mangku Alit Pekandelan I Wayan Yendra, dalam buku Sanghyang Buda Kecapi—Mahaguru Kanda Pat Bali, adalah kata benda feminim yang banyak diterjemahkan menjadi kecerdasan, kebijaksanaan.
Asal katanya; Buddh. Yang berarti untuk mengetahui. Ini bahasa Sansekerta, bahasa leluhur bangsa Indonesia. Namun, dalam penerapannya, ada kecenderungan menggunakan kata Buddhi untuk merujuk pada kesadaran spiritual. Buddh—Buddhi—Buddha…

“Buddha berarti mereka yang sadar, yang mencapai pencerahan sejati,” demikian diterangkan Mangku Alit I Wayan Yendra.
Di sini, kembali kita mengingat Ki Hadjar Dewantara yang tumbuh dalam tradisi pengajian Sarasehan Selasa Kliwon di Yogyakarta. Waktu mengudara dari RRI pada Juli 1950, dia menyampaikan…

Kebudayaan adalah buah Buddhi manusia. Buddhi manusia itu ialah jiwa yang sudah masak, sudah cerdas, meliputi segala gerak-gerik pikiran, rasa, serta kemauan.

Karena ia adalah benih yang tumbuh di negeri ini, diksi Buddhi ini sebenarnya tak pernah benar-benar terlupakan. Ia kerap disandingkan dengan kata “budi pekerti” dan “nalar budi” yang setelah Islam datang menjadi “akal budi”.

Buya Hamka, satu di antara tokoh bangsa pun pernah menulis buku berjudul Lembaga Budi.

Menjemput yang tertinggal, mengumpulkan yang terserak, setelah “mengembarai” ujung ke ujung selapis negeri yang hari ini bernama Indonesia, ternyata seluruh situs dan ritus adat istiadatnya berpedoman pada akal budi dan keselarasan alam raya.

Dan kiranya tak berlebihan bila kita simpulkan, puncak-puncak kecerdasan Akal Budi di masing-masing daerah itulah identitas Kebudayaan Nasional kita.

Artinya, bila memang sudah tiba waktunya bagi bangsa ini kembali menempuh Jalan Kebudayaan, jalan yang pernah membawa kita menjadi bangsa kaya raya dengan segenap keilmuwannya, jalan itu sebenarnya telah lama tersedia.

Tak perlu susah payah. Kita hanya perlu kembali “menanam benih yang cocok untuk tanahnya.” ***
____
*Naskah ini disunting di Mandala Wangi, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, Sabtu 14 September

2024. Dan digubah di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa, 4 Maret 2025.

**Penulis adalah Ketua Perkumpulan Wangsamudra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *